Galeri 1

Peresmian Pondok Pesantren Salafi Modern Latifah oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan Lc.

Galeri 2

Kang Abu Hikmah tampak sedang mengobati beberapa pasien

Galeri 3

Para santri TPA Pesantren Salafi Modern tengah berpawai dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan

Galeri 4

Dalam milad pertama Yayasan Da'wah dan Sosial Latifah, beberapa santri TPA sedang unjuk kemampuan di depan ratusan penonton

galeri 5

Kang Abu Hikmah sedang mengajar para santri TPA di pengajian sore

Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juli 2011

KH. Q. Ahmad Syahid Sang Pecinta Muhammad

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Tak lelah aku goreskan tinta hitam diatas lembaran kertas putih. Mengenang kembali guruku tercinta KH. Q. Ahmad Syahid pengasuh pondok pesantren al-Qur’an al-Falah. Dan enam tahun yang lalu aku menjadi santrinya yang cukup badung. Berbagai hukuman dari pondok pernah aku dapatkan, mulai dari digunduli karena melindungi teman yang merokok, disuruh mengahafal 30 hadits karena tertangkap basah sedang berpacaran, dan juga dipukul pake rotan karena membuat sarang diatas langit-langit asrama. Tapi biarlah itu menjadi kesaksianku kelak.
Suatu ketika aku mengikuti pengajian rutin yang biasa dipimpin lagsung oleh beliau. Dalam pengajian itu dia menceritakan kepada kami tentang keunggulan umat Muhammad SAW, disbanding umat nabi yang lain. Dan aku ingin mengutip kembali apa yang beliau katakan ketika itu. “Makhluk pertama yang Allah ciptakan adalah Qalam. Qalam bertugas menuliskan nasib semua manusia, mulai dari umat Nabi Adam sampai umat Baginda Muhammad. Allah pun menyuruh Qalam menuliskan, ‘Hai Qalam, tulislah! Umat Adam yang taat pada-Ku, syurgalah balasannya. Dan umat Adam yang durhaka pada-Ku, Jahannamlah yang pantas untuknya.’ Dari umat Adam sampai umat Isa, Allah mengatakan hal yang sama kepada Qalam tentang nasib mereka kelak, namun dikala Qalam akan menuliskan hal yang sama tentang umat Muhammad bahwa yang taat akan mendapatkan syurga, dan yang durhaka akan menempati neraka, maka Allah murka kepada Qalam,Hai Qalam, bertingkah sopanlah engkau kepada umat Muhammad kekasihku, tulislah! Bahwa umat Muhammad yang taat kepada-Ku akan Aku karuniakan syurga, dan umat Muhammad yang durhaka pada-Ku, maka sesungguhnya pintu taubatKu masih terbuka lebar.’”
Selesai menceritakan tentang keistimewaan Muhammad dan umatnya dihadapan Allah itu, beliau tertunduk, dan air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang lembut. Sepengetahuanku, ini bukan kali pertama beliau menangis saat menceritakan Kanjeng Nabi Muhammad, tapi setiap beliau menceritakan tentang keagungan pribadi Muhammad, beliau selalu meneteskan air mata. Aku melihat ada kerinduan yang menggebu, dan cinta yang begitu mendalam dalam diri beliau kepada Rasul Pamungkas itu. Dan sepertinya beliau sangat menyadari adanya jalinan cinta segitiga antara kita, Muhammad, dan Allah. Allah sangat mencintai Muhammad, dan Muhammad pun sangat mencintai Allah. Allah mencintai kita, dan kita terus berusaha untuk mencintai Allah. Muhammad sangat mencintai kita, dan kita terus berusaha untuk mencitai Muhammad. Ya, ada Love Triangle antara kita, Muhammad, dan juga Allah.
Saat menjadi santrinya beliau (Mudah-mudahan sampai sekarang aku masih dianggap santrinya), aku telah banyak menyaksikan akhlaq beliau yang indah, dan itulah manifestasi dari kerinduan dan kecintaannya kepada Baginda Rasulullah Muhammad. Tak berlebihan kiranya jika aku  menyebut beliau sebagai Pcinta Muhammad SAW. Aku pun mencintai Muhammad. Tapi aku belum benar-benar mengikutinya. Aku masih takut dan terus-menerus tergantung pada kekuasaan-kekuasaan kecil disekitarku. Aku kecut pada atasan. Aku tunduk pada benda-benda. Aku bersujud pada uang, dan pada begitu banyak hal yang picisan-picisan.

Kumulai pekatkan pena
Di atas lembaran putih
Berlinang cucuran air mata bahagia
Tuk kenangkan Muhammad yang kucinta
Yang menebarkan kasih
Dari kuli hingga raja
Rumput sampai gajah
Bajingan, ulama, langit, bumi, jin, malaikat
Kenangkan Muhammad yang kucinta
Pembuka apa yang tertutup
Penutup apa yang terdahulu
Penegak kebenaran dengan kebenaran
Ya Rabb. Muhammad-kan Hamba

KH. Q. Ahmad Syahid Sang Pecinta al-Qur'an

Oleh:  Sanghyang Mughni Pancaniti

KH. Q. Ahmad Syahid. beliau adalah pimpinan Pondok Pesantren al-Qur’an al-Falah Cicalengka Bandung. di dunia seni baca al-Qur’an, beliau adalah orang yang sangat dikenal, karena beliau merupakan juara pertama pada MTQ Tingkat Nasional yang pertama kali diadakan di Indonesia.
Sekitar tahun 2001-2004, saya pernah menjadi santrinya di Ponpes al-Qur’an al-Falah, guna menuntut ilmu agama, khususnya Ulum al-Qur’an. ketika itu para santri biasa memanggil beliau dengan sebutan “Ayah”, dengan tujuan agar para santri bisa menjadikan beliau sebagai ayahnya di pondok.

Selama “nyantri’, saya “ngabandungan” akhlaq beliau yang luar biasa, ada beberapa contoh akhlak yang saya kagumi dari beliau; Pertama. kecintaan beliau kepada al-Qur’an. menurut saya, beliau adalah Sang Pecinta al-Qur’an baik dengan lahirnya, maupun bathinnya. rasa hormat beliau terhadap al-Qur’an sangat besar. misalkan ketika ada santri yang menyimpan al-Qur’an di atas kursi, maka beliau menegur santri tersebut, ‘kursi adalah tempatnya pantat, apakah kamu akan menyimpan al-Qur’an yang mulia di tempat yang biasanya didiami pantat?’. atau ketika ada santri yang sedang tadarus al-Qur’an, namun menyimpan al-Qur’an diatas lantai, dan disejajarkan dengan kaki, maka beliau akan segera mengingatkan santri tersebut.
kedua. kecintaannya kepada Baginda Rasulullah SAW. Ketika beliau mengajar para santri, beliau sangat sering menceritakan kisah-kisah tentang Baginda Rasulullah SAW. di tengah cerita, beliau selalu meneteskan air mata. alangkah besarnya kerinduan beliau kepada Rasulullah SAW. kami para santri, selalu ikut menagis, jika melihat beliau menangis. bukan karena mampu memaknai kisah tersebut, tapi karena kami melihat orang yang kami cintai menagis. masih banyak akhlaqnya yang tak mampu saya lukiskan dengan kata dan tulisan. yang selalu menghiasi dimana beliau berada.
ibu saya dulu pernah menjadi santri beliau di al-Falah, kurang lebih sekitar dua tahun. ibuku bercerita tentang salah satu keistimewaan (karomah) beliau. dulu sebelum beliau berangkat menunaikan ibadah haji, beliau punya nadzar kepada Allah, “Ya Allah, jika engkau memberikan aku kesempatan kepadaku untuk menghadap-Mu di Tanah Suci Makkah, maka aku bernadzar akan melantunkan ayat suci al-Qur’an di atas bukit Uhud.”. Allah memang Maha Berkehendak, beliau pun diundang oleh Allah untuk beribadah haji ke Baitullah. sesampainya di tanah suci, beliau tidak melupakan janjinya kepada Allah untuk melantunkan ayat suci di atas bukit Uhud. tatkala melantunkan ayat suci al-Qur’an dengan lagu Qira’at, suaranya itu terdengar sampai ke kaki bukit Uhud oleh orang-orang yang berada disana. padahal beliau tak menggunakan alat bantu mickrofone. semoga Allah terus memberikan senyuman-Nya kepada beliau. Amin.. Wallahu a’lam


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More